Puluhan Pengikut Dimas Kanjeng Masih Berharap Mahar Mereka “Cair”

Probolinggo -Ratusan pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, sampai saat ini masih bertahan di dalam padepokan yang berada di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jatim. Di antara ratusan pengikut yang masih bertahan itu, terdapat sekitar 25 orang warga yang berasal dari 10 kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jatim. Di antaranya terdiri dari 5 orang warga Kecamatan Gondangwetan, 2 orang warga Kecamatan Pasrepan, 2 orang warga Kecamatan Wonorejo, 1 orang warga Kecamatan Rejoso, 2 orang warga Kecamatan Purwodadi, 1 orang warga Kecamatan Rembang, 1 orang warga Kecamatan Sukorejo, 4 orang warga Kecamatan Bangil, 4 orang warga Kecamatan Kejayan dan 3 orang warga Kecamatan Kraton. Kepala Bakesbangpol Kabupaten Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko, yang dikonfirmasi semalam membenarkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan di- back up Polres Pasuruan dan Kodim 0819 Pasuruan secara bersama-sama sedang dan akan terus melakukan pendekatan untuk menjemput mereka pulang meninggalkan tenda-tenda Padepokan Dimas Kanjeng. “Data awal di padepokan memang ada 25 warga Kabupaten Pasuruan yang masih bertahan. Kita bujuk mereka supaya kembali pulang karena maha guru mereka Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditetapkan sebagai tersangka otak pembunuhan dua pengikutnya, tersangka kasus penipuan, tersangka pencucian uang dan kemungkinan tersangka penyebar aliran sesat,” ujar Yudha. Diakuinya warga Pasuruan yang bertahan itu rata-rata menolak dan sangat keberatan meninggalkan padepokan akibat mereka sudah berbulan-bulan menunggu uang mahar yang disetorkannya itu ‘cair’ dari upaya penggandaan Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjadi 100 kali lipat dan bahkan ada yang dijanjikan 1.000 kali lipat. “Negosiasi memang sangat alot karena mereka tidak mau kehilangan uang maharnya yang disetor ke Dimas Kanjeng yang berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 150 juta sejak tiga hingga empat tahun lalu,” aku Yudha yang hari ini masih akan berupaya mengajak pulang warganya ke Pasuruan. Sementara itu Kapolres Pasuruan AKBP Muhammad Aldian yang dikonfirmasi terpisah, Rabu (5/10) tadi pagi mengatakan, dari 25 orang warga Kabupaten Pasuruan itu hanya ada delapan orang warga Pasuruan yang menetap sementara di Padepokan Dimas Kanjeng. Sebagian lainnya hanya bolak-balik Pasuruan-Probolinggo. “Jadi ya mereka beranggapan bahwa hal itu adalah yang biasa,” imbuhnya. Ia mengaku tidak memiliki kewenangan untuk memaksa mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Menurut dia, pihaknya akan terus membantu Pemkab Pasuruan melakukan pendekatan persuasif, sering melakukan komunikasi dengan mereka agar lama kelamaan menjadi luluh serta sadar bahwa kegiatan Padepokan Dimas Kanjeng bermasalah. Terbius mimpi Meski pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng sudah ditetapkan sebagai tersangka (pembunuhan, penipuan, pencucian uang) dan sudah ditahan Ditreskrim Polda Jatim, namun sampai saat hari ini masih sekitar 85 hingga 100 orang pengikutnya yang bertahan di tenda-tenda padepokan. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang menolak kalau ajaran di padepokan itu dikatakan sesat. Namun mereka rata-rata mengakui sedang terbius mimpi (uangnya bisa dilipatgandakan) Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Camat Gading, Kabupaten Probolinggo, S Hariyanto yang dikonfirmasi terpisah tadi pagi menjelaskan, bahwa jumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Probolinggo sudah jauh berkurang karena kembali pulang. Jumlah awal, pengikut padepokan resmi berjumlah 3.119 orang, namun saat ini hanya tersisa 85 sampai 100 orang yang bertahan di tenda dekat Padepokan. “Ini berkat program bantuan pemulangan pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi ke daerah asalnya. Memang masih banyak lagi yang indekos dan bahkan kontrak di rumah-rumah penduduk di sini, jumlahnya mencapai ratusan orang namun sebagian di antara mereka ada yang sudah kembali pulang,” ujarnya. Indekosan atau kontrakan itu memang disewakan bagi pengikut Dimas Kanjeng yang tidak mau tidur di tenda-tenda darurat. “Dulu mencapai ribuan, tetapi kemudian menyusut tinggal ratusan orang,” ujar Camat Gading sambil menyayangkan banyak pemilik indekosan atau rumah kontrakan yang tidak melapor ke desa ataupun kecamatan sehingga menyulitkan pendataan orang luar Gading Pobolinggo yang tinggal di wilayahnya. Aries Sudiono/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu