Draghi Minta Pasar Finansial Bersabar

Frankfurt – Bank Sentral Eropa atau ECB pada Kamis (8/9) mempertahankan suku bunga acuan dan kebijakan moneter. Presiden ECB Mario Draghi meminta pasar finansial bersabar sampai kebijakan-kebijakan yang sudah dikeluarkan menunjukkan dampaknya terhadap perekonomian zona euro. Untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan menggerakkan laju inflasi, ECB mempertahankan suku bunga refinancing pada level nol persen. Suku bunga fasilitas pinjaman marjinal juga dipertahankan sebesar 0,25% dan suku bunga simpanan tetap minus 0,4%. “Dewan Gubernur memperkirakan untuk saat ini suku bunga bertahan di levelnya atau lebih rendah untuk periode lebih panjang,” kata ECB. Keputusan tersebut sudah diperkirakan karena data-data awal menunjukkan zona euro berhasil meredam gejolak awal dari keputusan Inggris pada Juni 2016 untuk meninggalkan Uni Eropa (UE). Penciptaan lapangan kerja dan purchasing managers index (PMI) manufaktur serta jasa stabil. Sedangkan arus kredit ke sektor bisnis naik 1,3% pada Juli 2016. Dewan Gubernur ECB juga memutuskan tidak mengubah kebijakan moneter dengan mempertahankan volume program pembelian aset sebesar 80 miliar euro per bulan. “Untuk saat ini perubahan-perubahan yang terjadi tidak substansial dan tidak mengharuskan adanya tindakan. Kebijakan moneter kami efektif. Kalau soal kemauan, kapasitas, dan kemampuan untuk bertindak tidak usah dipertanyakan lagi,” tutur Draghi, pada konferensi pers usai pertemuan kebijakan, di markas ECB di Frankfurt, Jerman. Ia meminta para pelaku di pasar finansial bersabar agar langkah-langkah stimulus luar biasa yang sudah dikeluarkan bank sentral bisa bekerja. “Pada akhirnya kita harus bersabar. Suku bunga harus tetap rendah agar pemulihan ekonomi berjalan. Supaya pemulihan ekonomi menguat dan pada akhirnya akan berdampak positif terhadap keuangan perbankan. Suku bunga harus rendah sekarang agar esok bisa tinggi,” tutur dia. ECB juga pada Kamis menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro untuk 2016, tapi menurunkan prediksi untuk 2017 dan 2018. Draghi mengatakan bahwa ketidakpastian yang tetap ditimbulkan oleh Brexit akan berpengaruh terhadap aktivitas perdagangan. “Pemulihan ekonomi zona euro diperkirakan terhambat oleh lesunya permintaan luar negeri, yang sebagian disebabkan ketidakpastian-ketidakpastian terkait hasil referendum Inggris serta lambannya laju implementasi reformasi struktural,” papar Draghi. ECB, kata Draghi, sekarang memperkirakan produk domestik bruto (PDB) zona euro tumbuh 1,7% pada 2016, dibandingkan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 1,6%. Sedangkan pada dua tahun berikutnya, zona euro diperkirakan mencatat ekspansi ekonomi masing-masing 1,6% atau turun dibandingkan sebelumnya yang sebesar 1,7%. Sementara itu, ekspektasi inflasi tidak berubah, yakni sebesar 0,2% untuk 2016, 1,2% untuk 2017, dan 1,6% untuk 2018. Laju inflasi zona euro yang sangat rendah merupakan sumber kekhawatiran utama ECB, sebab targetnya adalah mendekati tapi di bawah 2,0%. Nilai tukar euro menguat setelah ECB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2016 dan Draghi meminta pasar finansial bersabar. Euro menguat menjadi US$ 1,1327 lalu bertahan di level US$ 1,1315 dibandingkan US$ 1,1242 pada penutupan perdagangan Rabu (7/9). “ECB harus mengumumkan tambahan stimulus sebelum kelamaan. Lesunya hasil survei bisnis menunjukkan laju pertumbuhan tetap rendah sehingga ada peluang perpanjangan QE dari rencana saat ini yang sampai Maret 2017,” tutur Jennifer McKeown, analis dari Capital Economics. Nick Kounis dari ABN Amro sepakat bahwa bank sentral zona euro harus memperpanjang program tersebut sebelum 2016 berakhir. “Jika ECB menunggu terlalu lama, pasar bakal dihinggapi kegelisahan,” kata dia. Sebelum keluarnya keputusan ECB, para analis memperkirakan ECB menunggu sampai adanya hasil referendum di Italia dan pemilihan presiden di AS pada November 2016. “Bank sentral perlu menahan beberapa amunisi untuk Desember,” ujar Johannes Gareis, analis dari Natixis. Iwan Subarkah/SN Investor Daily

Sumber: BeritaSatu