Trump dan Hillary, Capres Paling Tidak Populer Sepanjang Sejarah

Washington – Donald Trump dan Hillary Clinton merupakan dua calon presiden Amerika Serikat yang paling tidak populer sepanjang sejarah, kata David Boaz, seorang pengamat politik dari Cato Institute – sebuah organisasi think tank peneliti kebijakan publik AS. “Jadi kedua partai besar AS (Demokrat dan Republik) telah menominasikan kandidat presiden yang tidak disukai, dan faktanya adalah dua kandidat presiden (Trump dan Hillary) itu merupakan kandidat yang paling tidak populer sepanjang sejarah jajak pendapat,” kata Boaz saat ditemui di Washington DC, Sabtu (5/11). Menurut dia, capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan capres Partai Republik Donald Trump masing-masing memiliki sekelompok warga AS yang tidak menyukai dan tidak mau mendukung mereka. “Mereka kandidat presiden yang sangat tidak populer. Jadi, ada sejumlah warga AS yang tidak suka bahkan menentang Hillary dan ada juga yang menentang Trump,” ujar dia. Boaz menjelaskan hal yang tidak disukai warga AS terkait kemungkinan Trump menjadi presiden adalah sikap dari pebisnis New York itu yang dianggap otoriter, tidak menghormati konstitusi, dan tampaknya tidak mengindahkan batasan kuasa seorang presiden. Selain itu, kata dia, Trump banyak mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial soal kelompok masyarakat minoritas di AS dan menyebutkan kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten. “Trump bukan kandidat yang benar-benar difavoritkan. Tingkat ketidaksukaan kepada Trump sangat tinggi. Meskipun demikian, beberapa orang yang tidak menyukai dia masih tetap memilih dia. Sekarang pertanyaannya, mengapa mereka melakukan itu?,” ujar dia. Hal itu, menurut Boaz, terjadi karena dua alasan. Pertama, banyak warga AS yang memilih Trump bukan karena ingin mendukung dia, tetapi hanya karena ingin memberikan suaranya kepada Partai Republik yang mereka dukung. “Alasan lainnya adalah karena Hillary Clinton juga adalah kandidat presiden yang benar-benar tidak populer. Banyak orang melihat dia sebagai sosok yang korup dan pemerintah besar yang sangat liberal,” ungkap dia. “Jadi ada yang tidak suka dengan karakter Trump, namun juga tidak sepenuhnya mendukung Hillary karena banyak yang memandang dia sebagai sosok yang kurang jujur dan kurang bisa dipercaya,” ujar Boaz. Selama masa kampanye dan saat debat capres, Hillary Clinton sering ditekan untuk membuka isi surat elektroniknya yang berisi pidatonya di Wall Street. Hal itu karena pidato Hillary di hadapan sejumlah bankir investasi, pelobi dan eksekutif perusahaan Wall Street diduga menunjukkan perbedaan tajam sikap Hillary dibandingkan ketika kampanye pemilu presiden tahun ini. WikiLeaks merilis isi sejumlah surat elektronik capres Partai Demokrat itu, termasuk transkrip pidato Hillary untuk sejumlah perusahaan di Wall Street. Hillary dilaporkan mengatakan, “diperlukan sikap publik maupun pribadi” mengenai isu-isu kebijakan. Pernyataan itu dinilai “memberi bahan bakar segar bagi kelompok liberal”. Menurut laporan Associated Press, dalam masa kampanye banyak pemilih menganggap Hillary sebagai “sosok politik moderat yang suka melakukan kesepakatan demi kepentingan perusahaan dan berpihak pada Wall Street demi memperoleh sumbangan kampanye”. /YUD Reuters, Antara

Sumber: BeritaSatu