Peluang FFR Naik Bulan Ini Terus Turun

New York – Para pialang di pasar saham dunia memfokuskan perhatian pada pertemuan-pertemuan bank sentral di sejumlah negara ekonomi terdepan dunia pada pekan ini dan pekan depan. Data-data ekonomi terbaru yang dirilis Kamis (15/9) di Amerika Serikat (AS) menunjukkan peluang dinaikkannya federal funds rate (FFR) bulan ini mengecil jadi di bawah 20%. Sekitar 25 menit memasuki perdagangan Kamis, seperti dilaporkan AFP , indeks saham Dow Jones di Bursa New York naik 0,1%, sama dengan kenaikan indeks S&P 500. Sedangkan indeks komposit Nasdaq naik 0,3%. Bloomberg melaporkan bahwa indeks saham AS naik dari level terendah dalam dua bulan setelah harga saham Apple memperpanjang rally . Sedangkan aksi jual di obligasi bertenor panjang terus mendorong kenaikan imbal hasil, di tengah spekulasi bahwa bank-bank sentral akan mengkalibrasi ulang kebijakan stimulusnya. Sekitar pukul 10:31 pagi di New York, kata Bloomberg, indeks S&P 500 naik 0,4% atau membalikkan penurunan 0,1%, pada Rabu (14/9) sehingga indeks jatuh ke level terendah sejak 7 Juli 2016. Harga saham Apple melonjak 3% ke level tertinggi tahun ini. Saham-saham energi juga rebound dari aksi jual selama dua hari setelah harga minyak mentah stabil di sekitar US$ 44 per barel. Data resmi di AS menunjukkan produksi industri turun melebihi perkiraan dan penjualan ritel di luar dugaan turun pada Agustus 2016. Dari sini lah para analis memperkirakan peluang kenaikan FFR pada pekan depan menjadi di bawah 20%. Adapun nilai tukar poundsterling melemah, pada Kamis, setelah Bank of England (BoE) mengutarakan kemungkinan pemangkasan lagi suku bunga acuan tahun ini. “Data-data tersebut menunjukkan bahwa suku bunga tidak seharusnya naik. Imbal hasil naik lebih tinggi di luara negeri yang artinya permintaan berasal dari pasar obligasi kami atau bahkan pasar saham kami karena para investor yang memburu yield lebih baik akan keluar. Ini yang lebih penting dibandingkan data-data terbaru,” tutur Mark Kepner, direktur pelaksana dan pialang ekuitas Themis Trading LLC di Chatham, New Jersey, kepada Bloomberg. Kapitalisasi pasar saham global tergerus sekitar US$ 2 triliun selama satu pekan terakhir karena kekhawatiran terhadap pasar minyak mentah berbarengan dan sinyal-sinyal bahwa bank-bank sentral utama siap mempertimbangkan ulang kebijakan moneter. BoE mempertahankan suku bunga acuan pada Kamis. Sedangkan The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan menggelar pertemuannya, pekan depan. Sidang The Fed dijadwalkan pada 20-21 September 2016 waktu setempat. “Pasar bergantung pada kemurahan hati bank-bank sentral tapi ada sedikit masalah kredibilitas. Sampai kami mendapatkan gambaran sesungguhnya mengenai arah kebijakan moneter global, pasar tidak bisa-bisa mengambil patokan,” tutur Thomas Thygesen, kepala strategi lintas aset SEB AB di Kopenhagen, Denmark, kepada Bloomberg. Indeks-indeks saham Eropa bergerak mixed pada Kamis. Indeks saham London menguat setelah BoE mengindikasikan kenaikan lagi suku bunga tahun ini. Pada sesi perdagangan siang, indeks FTSE 100 London naik 0,2% setelah para pialang juga bereaksi atas pertumbuhan penjualan ritel. Di zona euro, indeks DAX 30 Frankfurt turun 0,4% dan indeks CAC Paris turun 0,6%. Langkah BoE BoE pada Kamis mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah 0,25%, karena belum ada indikasi hasil referendum Brexit berdampak buruk terhadap perekonomian. BoE memperkirakan laju perlambatan produk domestik bruto (PDB) Inggris pada paruh kedua 2016 lebih kecil dari perkiraan. Sebab data-data ekonomi lebih baik dari perkiraan pascareferendum 23 Juni 2016, yang menunjukkan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (UE). Hasil referendum tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan analis tentang mengapa BoE bulan lalu memangkas suku bunga acuan dari level 0,50%. Gubernur BoE Mark Carney pekan lalu membela keputusan tersebut, dengan dalih atas tindakan tersebut perekonomian terbantu pascareferendum Brexit. Risalah hasil pertemuan kebijakan terbaru menekankan bahwa bank sentral masih bisa memangkas lagi suku bunga sebelum akhir tahun menjadi sedikit di atas nol persen. “Yang menarik adalah meski data-data melebihi perkiraan, sebagian besar anggota BoE masih berpikir akan memangkas lagi suku bunga tahun ini,” ujar Neil Wilson, analis pasar dari ETX Capital. Konsensus di kalangan analis adalah BoE akan memangkas suku bunga acuan menjadi 0,10% pada November 2016, setelah Carney belum lama ini mengingatkan bahwa Inggris masih berisiko jatuh ke dalam resesi terkait Brexit. Namun peluang tersebut telah mengecil dalam beberapa pekan terakhir. Di Asia, indeks saham Tokyo ditutup turun 1,3% pada Kamis, sedangkan yen menguat karena ketidakpastian atas dampak dari peluang dipangkasnya suku bunga acuan. Sedangkan pasar saham Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan (Korsel) tutup karena libur nasional. Para pejabat The Fed pekan ini hingga pertemuan kebijakan pekan depan sedang menjalani masa tenang dan tidak akan berbicara kepada publik. Pernyataan terakhir dari pejabat The Fed adalah Lael Brainard, yang bernada dovish dengan menyatakan belum perlu ada kenaikan suku bunga bulan ini. Sebelumnya pernyataan dua pejabat The Fed mengirimkan sinyal bahwa era dana murah segera berakhir. Menurut Presiden The Fed Boston Eric Rosengren, suku bunga acuan perlu dinaikkan untuk mencegah perekonomian AS mengalami overheating. Sedangkan Gubernur The Fed Daniel Tarullo yang kerap bernada dovish mengisyaratkan keterbukaannya pada kenaikan suku bunga tahun ini. Iwan Subarkah/PYA AFP/Investor Daily

Sumber: BeritaSatu